Aku minta tolong bocah cari resep rabeg. Kupilih yang bahannya tersedia di dapur. Nanti kutulis resepnya dalam postingan lain, insyaallah.

Warning berikutnya adalah ketupat tinggal sedikit. Jadi bocah kuminta masak nasi. Aku memang hanya memesan ketupat 20 buah, berdasar pengalaman itu jumlah ideal untuk bertahan hingga seharian lebaran. Pernah pesan 30, ternyata kebanyakan. Pesan 10 atau 15 kok kurang. Apalagi tidak ada rencana pertemuan keluarga di hari lebaran.

Oh ya, berhubung kuah semur daging masih ada dan sayang untuk dilupakan, aku rebus telur untuk menemaninya. Sayur lodeh sudah digantikan kedudukannya oleh sayur sop. Potongan dadu wortel, jagung pipil, dan buncis iris disiapkan manual, lalu disimpan terpisah. Jadi kalau mau bikin sop campur tinggal ambil dikit-dikit.

Saat aku sudah lapar dan nasi belum matang, jalan ninjaku adalah menyantap rabeg dengan gemblong atau uli atau jadah. Ini kiriman teteh pembantu di rumah, aku belum kuasa membuatnya karena dibutuhkan kekuatan “menjojoh” beras ketan. Hahaha. Aku cek di aplikasi KBBI VI kata “jojoh” belum masuk, mungkin padanannya adalah menumbuk, ya.

Dalam foto rabeg ada yang kayak ulat. Itu adalah usus kambing yang dikepang. Dulu waktu baru punya anak satu dan masih giat memasak menu tradisional Banten, aku belajar mengepang usus kambing dari ibu sayur. Wkwkwk.

Saat itu aku pesan jeroan untuk rabeg, trus sama ibu sayur dikasih tahu resep, trik dan tips masaknya. Alhamdulillah terpakai setiap bikin rabeg jeroan kambing.

Sebagai penyeimbang asupan supaya tidak oleng, sayur tetap aku konsumsi. Maka jangan heran ada sayur sop dalam piringku bersama gemblong dan rabeg. Hihihi.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==