Saya mengalami mudik 3 era. Pertama era saat masih kecil, 1970-an, jika lebaran tiba mudik dari Serang Banten ke Purwakarta. Naik bus Himalaya. Tentu tidak separah sekarang, yang bisa tidak kebagian tiket atau antreannya panjang. Saat itu istilah mudik diartikan pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran.

Tradisi mudik di Indonesia memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan budaya, urbanisasi, dan perkembangan ekonomi masyarakat. Kata mudik sendiri berasal dari bahasa Jawa: “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar. Dalam perkembangannya, istilah ini melebar makna menjadi pulang kampung, terutama menjelang hari raya, seperti Idulfitri. Itu dikuatkan di Kamus Bahasa Indonesia yang terbit pada 976, mudik memiliki makna pulang kampung.

Jika mengingat mudik itu, sungguh luar biasa perjuangannya. Berangkat dari Serang pukul 06.00 WIB melewati jalan pos Daendels; Balaraja, Cikupa, Tangreang, Daan Mogot, Grogol, Pasar Baru, Kramat Raya, Pramuka, terus Bekasi, Kerawang, Cikampek, Sadang, Purwakarta. Kadang tidak kebagian tempat dulu. Setelah sampai Jakarta, suka ada penumpang yang turun, saya bisa duduk. Sore hari baru sampai karena bus menaikturunkan penumpang hampir di setiap kilometer. Saat itu angkutan bus masih jarang. Tapi di era 1980-an sudah mulai banyak bus Merak – Bandung lewat Purwakarta.

Era kedua, saat saya jadi wartawan tahun 1990-an. Ini bisa saya sebuat era Orde Baru. Masih bujangan. Istilah mudik mulai populer seiring peningkatan jumlah penduduk. Saya pernah dengan sengaja merasakan “mudik” dengan angkutan kereta Pasar Senen – Cirebon. Saya ikut berjubel di lokomotif. Jangan kaget, penumpang ada yang sampai berjejalan di toilet dan duduk di atap kereta. Ini juga sejalan denan urbanisasi dari kampung ke Jakarta yang meningkat drastis. Orang Jawa terutama, mencari kerja di Jakarta, dan mudik menjadi momen untuk kembali ke akar dan menunjukkan “kesuksesan” di kota.


Saya menemukan realitas baru, bahwa mudik bukan hanya soal perjalanan fisik, tapi juga:
- Simbol keberhasilan: Banyak perantau ingin menunjukkan hasil jerih payah mereka di kota.
- Pemulihan hubungan emosional: Bersilaturahmi, memohon maaf, dan mempererat hubungan keluarga.
- Ritual tahunan: Menjadi bagian tak terpisahkan dari Hari Raya Idulfitri bagi mayoritas Muslim Indonesia.

Era ketiga setelah menikah, tahun 2000-an hingga sekarang. Istri saya – Tias Tatanka – orang Solo. Mulailah mudik jadi tradisi walaupun tidak rutin setahun sekali. Mudik pertama tahun 2001. Nabila (3 tahun), Gabriel (2 tahun) merasakan naik bus malam. Mudik kedua tahun 2002, naik mobil pribadi – Suzuki Carry Deluxe. Saya dapat jatah mobil dari RCTI dimana saya bekerja. Saya menyetir sendiri.


Era keempat adalah era digital, 2010 hingga sekarang. Ketika Ignasius Jonan menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai 25 Februari 2009 hingga 27 Oktober 2014, reformasi mulai diberlakukan. Mudik naik kereta mulai beradab. Tidak ada lagi gerbong berjejalan manusia seperti pindang – apalagi duduk di atas kereta dan tumplek di lokomotif. Pemesanan tiket pun mulai online. Bahkan sekarang sudah dengan sistem Face Recognition.


Saya sudah mengalaminya saat berkereta di tahun 2023, dari Jakarta ke Malang. Face recognition sangat praktis. Saya tidak perlu lagi buka hp atau mencari tiket untuk diperlihatkan ke petugas di gate. Saya tinggal mengarahkan wajah ke layar monitor yang sudah dilengkapi dengan kamera. Wajah kita sendiri sebagai akses untuk masuk. Selain itu, fitur ini juga meningkatkan keamanan karena hanya penumpang yang sudah terdaftar dan punya tiket yang bisa masuk ke peron.

Di era digital sekarang ini, mudik jadi lebih mudah. Jalan tol sudah ada koridor Merak – Surabaya. Hampir semua kota besar di Jawa sudah terhubung. Lampung – Palembang – Pekanbaru juga terhubung. Beli tiket kereta, kapal laut, bus, kapal terbang tidak perlu lagi berdesakan antre seharian. Semuanya sudah online.
Gol A Gong



