Catatan-catatan itu sangat berguna untuk menyusun alur cerita dan plotnya. Kemudian untuk menguatkannya saya traveling. Ini bagian dari riset lapangan. Saya harus mencari lokasi-lokasi menarik untuk menghidupkan alur cerita dan plot yang sudah saya buat.


Pada 1985 saya menuntaskan riset untuk calon novel Balada Si Roy dengan traveling selama 2 tahun, hingga 1987. Saya mengambil keputusan sangat penting waktu itu; saya mengundurkan diri dari Fakultas Sastra UNPAD Bandung. Saya mendatangi kota-kota, desa-desa mulai dari Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timu, Bali, NTB, NTT, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Saya mencari-cari setting lokasi utama untuk novel yang saya garap serius ini.


Saya menggunakan transportasi darat dan mencari yang gratisan seperti kereta gerbong, truk, pick up. Hitchiking atau nebeng. Kadangkala kalau beruntung bisa diajak oleh sebuah keluarga dri satu kota ke kota lain. Dengan cara seperti ini saya menemukan lokasi utama untuk novel saya: Banten!




[…] dasar novel kita dalam satu kalimat sederhana yang lugas dan jelas. Ada juga yang berpendapat Premis adalah atom dari sebuah cerita. Seberapa pun panjang naskah kamu kelak, semuanya berasal dari […]
[…] melewati Situ Bondo yang penuh kenangan, Safari Literasi Duta Baca Indonesia memasuki kota ke-18, yaitu Kabupaten Banyuwangi. Kedua mata saya tertuju pada tagline atau visi […]