Acara pun dimulai, salah satu pemateri di acara yang aku ikuti menyebutkan nama orang yang duduk di sebelahku. Namanya Bu Risna Fatmawati, yang biasa disapa dengan Bu Risna. Awalnya, aku hanya mengira ibu yang duduk di sebelahku ini hanya seorang ibu pada umumnya yang sedang ada waktu luang untuk mengikuti acara ini.
Ternyata dugaanku salah fatal, beliau bukanlah seorang ibu pada umumnya, melainkan seorang ibu yang memiliki semangat tinggi dalam membangun surga ilmu untuk anak bangsa. Bu Risna ialah seorang ibu yang memiliki tempat membaca untuk anak-anak di rumahnya. Aku mulai tertarik menanyakan padanya mengenai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang beliau geluti.

Aku memulai pertanyaan mengenai “Dimana tempat TBM ibu kalau boleh tau”, Bu Risna menjawab dengan suara lembut seperti sedang berbicara kepada anaknya, “Di Kaligandu”. Aku tanya lagi “Emang acaranya setiap hari, Bu?”. Beliau menjawab “Ngga, sekarang kegiatanya di hari libur karena anak-anak sekarang udah pada punya kegiatan, jadi kita mengadakan kegiatan setiap hari pekan saja.”
Aku menjawab lagi pada Bu Risna, “Ih, penasaran deh, Bu”. Jujur aku tidak berekspetasi bahwa Bu Risna akan bilang seperti ini “Simpan aja nomor ibu, kalo mau main ke sana mah”. Ketika mendengar itu, aku langsung sumringah seperti mendapatkan kabar yang amat menggembirakan.
Disela-sela pemateri menjabarkan materinya, aku menanyakan seputar kapan berdirinya TBM yang Bu Risna tekuni ini. 2018 itu adalah tahun dimana TBM yang Bu Risna geluti. Nama Taman Bacaan Masyarakat ini adalah BSB Libels. Bu Risna adalah seorang penggerak di TBM ini. Walaupun usia telah menggerogoti tubuhnya yang semakin hari semakin terbatas ruang geraknya, namun tidak mematahkan semangatnya untuk terus membangun ruang untuk anak-anak menimba ilmu dari buku-buku yang disediakan di tempat ini.

Nama beliau mungkin terkesan asing bagi diriku, namun darinya aku banyak belajar dari sedikit cerita yang aku dengar hari ini tentang kegiatan yang beliau geluti dari tahun 2018. Sekarang kita sudah hidup di tahun 2024, enam tahun telah dilalui oleh Bu Risna didalam mempertahankan TBM yang ia tekuni ini. Tentu waktu yang telah beliau lewati tidaklah sebentar melainkan waktu yang panjang ditambah lika-liku baik susah maupun senang mungkin sudah menjadi makan sehari-hari bagi Bu Risna selama mempertahankan tempat untuk membaca ini.
Sejujurnya selama aku duduk bersebelahan dengan Bu Risna, aku seperti diberikan api yang membara yang membakar semangat didalam diriku lagi. Dimulai dari untuk mencoba menjadi seseorang yang gigih dan pantang mundur dalam membantu orang-orang disekitar kita untuk mencari dan menambah ilmu.
Aku juga belajar bahwa hal-hal yang bermanfaat itu bisa dimulai dari orang-orang di sekitar kita, tidak harus dari orang-orang jauh. Tidak hanya itu, aku belajar juga untuk jangan menjadikan umur sebagai patokan untuk menghalangi semangat kita dalam melakukan produktivitas baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang lain. Juga belajar agar percaya akan proses yang sedang kita jalakan untuk mencapai hasil yang kita harapkan dan tujuan sedari awal yang kita rencanakan.

Selain itu, aku juga belajar untuk tidak takut untuk memulai dan berani tampil berbeda dari orang pada umumnya. Mungkin bagian ini yang paling membuat aku berkesan terhadap Bu Risna karena telah mematahkan stigma yang orang awam yang katakan bahwa tugas seorang wanita itu hanya akan berakhir di dapur jika sudah menikah kelak.
Ternyata Bu Risna tidak demikian, beliau selain mengurus urusan rumah tangganya, ia juga bisa membangun tempat untuk orang-orang terdekatnya untuk membaca, belajar dan mencari hal-hal baru yang mereka tidak diketahui sebelumnya.

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Esai untuk Pegiat Literasi yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Minggu, 6 Oktober 2024.


