Tentang Nama Tokoh dan Setting Lokasi Dalam Cerpen-cerpen 30 Hari Menulis

Dua tokoh ini memiliki karakter yang menarik. Tokoh “aku” (lagi-lagi POV 1) adalah duda kesepian dan Catherine dengan karakter “haus seks”. Jika kita analisis lebih dalam, setiap penulis memiliki keseriusan saat menyematkan nama kepada para tokohnya. Tokoh “aku” diberi nama “Fahmi” dan pacar gelapnya bernama “Catherine”. Biasanya secara sosiologi, nama adalah doa. Dalam budaya Islam, nama “Fahmi” berasal dari bahasa Arab. Artinya sangatlah positif yaitu kejayaan dan kebanggaan. Ini  sama dengan mendoakannya kelak menjadi lelaki yang cerdas.

Sedangkan nama “Catherine” dalam tradisi Kristen adalah   dalam bahasa Anglo-saxon artinya Suci sedangkan dalam dalam bahasa Portugis artinya Murni. Masih banyak lagi arti dari nama “Catherine” ini. Kita bisa mencarinya di Google. Kami memberi nama anak pertama dngan Nabila Nurkhalishah dan Gabriel Firmansyah, dua budaya (Barat dan Timur) kami sematkan. Itu juga strategi kami, agar kedua anak kami bisa bebas berkeliaran di dunia internasional. Nama selain do’a juga bersifat politis.

Kemudian, apakah nama-nama para tokoh itu berkaitan karakternya? Atau ceritanya? Banyak penulis yang mengaitkannya. Biasanya penulis memaparkan latar belakang cerita. Misalnya Pramoedya Ananta Toer memberi nama pada tokohnya “Mingke” bukan tanpa sebab. Itu karena orang-orang Belanda memanggilnya dengan “monkey” kemudian diplesetkan jadi “mingke”.

Saya tidak tahu, apakah si penulis memang sedang membenturkan kenyataan antara Islam (Fahmi) dan Kristen (Catherine), bahwa kebutuhan seks lebih tinggi daripada kehidupan (ritual) beragama. Tokoh Fahmi memang tidak dilukiskan beragama Islam. Saya menebaknya saja, karena nama-nama anaknya bernuansakan Islam. Dan ini tafsir bebas saya sebagai pembaca.

Secara sosiologi, kenyataan hidup kaum urban memang begitu. Di cerpen ini para tokoh memiliki karakter yang keluar dari kelaziman norma masyarakat dan agama. Setting lokasi di kamar kontrakan tempat Fahmi dan Catherine melakukan hubungan seks di luar nikah seolah disodorkan kepada pembaca, bahwa di kamar-kamar kost kaum urban, banyak perselingkuhan atau hubungan seks diluar nikah yang kemudian jadi hal biasa. Budaya permisif, itulah pada akhirnya kita.

Hanya saja, endingnya kurang greget. Saya membayangkan endingnya terbuka, yaitu masyarakat menggrebek dan mengarak Fahmi dan Catherine keliling kampung!

***  

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==