Di cerpen kedua yang berjudul “Tubin Saya Lunasi” (TSL), juga menarik. Ini adalah cerpen dengan ironi kehisupan. Itu terjadi di sekitar kita. Saya tersenyum-senyum membacanya. Ini sangat kuat kelokalannya. Tentang Maria (POV 1 menggunakan “saya”), gadis desa di NTT yang menunggu pacarnya – Martinus! Maria tahu kalau Martinus sedang mengadu nasib di kota untuk masa depan mereka. Maria yang berkulit kecoklatan karena terbakar matahari mencoba mempercantik diri dengan membeli obat pemutih dari SPG, yang datang ke desanya. Maria yakin dengan cinta Martinus:
“Saya akan kembali, Maria. Saya janji. Sampai saat itu tiba, saya harap kau masih Maria yang saya kenal dan semakin buat saya jatuh cinta.” Begitu katanya waktu itu.
Tokoh Maria dalam gaya bahasa perbandingan adalah “pars pro toto” atau Maria mewakili seluruh perempuan desa di Indonsia, yang ingin penampilannya berubah jadi cantik seperti artis-artis sinetron Indonesia. Kulit putih mulus (padahal efek kamera dan lampu, ya!) yang tidak dimiliki Maria. Ending ceritanya jadi ironis. Ini ditujukan kepada para pembaca laki-laki, yang selalu diposisikan mengkhianati kesetiaan perempuan.
Sayangnya latar lokasi tidak digarap serius. Padahal sebetulnya bisa. Di benak pembaca, NTT itu tandus dan kering. Itu mewakili warna kulit Maria yang kecoklatan terbakar matahari.
Hal yang perlu ditingkatkan oleh si penulis adalah dalam teknik bercerita. Menggunakan POV 1 (saya) tidak jelek. Itu justru terbuka kesempatan untuk penulis berbuat sesukanya! Menggali karakter si tokoh. Cerpen ini baru berhasil menyodorkan situasin kehidupan saudara kita di pedesaan. Hanya lokasi NTT belum berhasil dihidangkan.
Saya beri contoh kalimat pembukanya :
Saya sedang sibuk menjemur pakaian saat wanita itu datang. Sudah menjadi agenda rutin untuknya dan teman-teman sejawatnya itu datang ke desa, mengetuk setiap pintu rumah warga, hingga hafal mana rumah yang memiliki gadis-gadis muda, mana rumah dengan ibu-ibu yang cepat terpengaruh dengan permainan kata-kata, dan mana yang tidak. Tentu saja dengan benda-benda yang selalu berbeda tiap bulannya.
Di paragraph awal ini sebetulnya terbuka peluang menghidangkan desa di NTT kepada pembaca. Saya (Maria) menjemur pakaian saat sales promotion girl itu datang menawarkan obat pemutih…
Teknik menulis menjelaskan (tell) memang jadi penyakit penulis, termasuk saya juga. Supaya kita bisa terlepas dari belenggu itu dan memasuki cara menulis “menunjukkan” (show), kita mulai dengan berlatih menggunakan POV 3. Tidak selalu jelek menulis dengan POV 1 dan “menjelaskan” tetapi menguasai banyak teknik menulis adalah hal terindah yang dimiliki penulis. (Gol A Gong)

