Puisi ini sebetulnya tentang kerinduan pada rumah di kampug halaman. Saat itu saya traveling, meninggalkan rumah lama sekali. Enam bulan saya di India. Ketika melihat kemiskinan di India, saya tergerak menulis puisi.

Kata-kata mengalir saat teh susu atau Chai mengalir ke dalam tubuhku. Sungai Ganga yang campur aduk antara manusia, hewan, dan mayat tetap dianggap suci sebagai air mata Dewa Shiva bagi masyarakat India.

Saya kemudian menulis puisi berjudul “Teh Susu Ganga”, sebagai cemin diri ketika persoalan kemiskinan membelit. Puisi ini tergabung dalam antologi puisi Air Mata Kopi (Gramedia, 2014) – yang masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014, adalah sebuah paradoks di negeri ini. >> ke halaman berikutnya >>

