Cara unik anak-anak Gen Alpha belajar huruf lewat gadget. Temukan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar digital mereka agar tetap positif dan efektif.
Cara Gen Alpha Belajar Huruf

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Cara unik anak-anak Gen Alpha belajar huruf lewat gadget. Temukan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar digital mereka agar tetap positif dan efektif.

Orang Banten, terutama Cilegon, Anyer, dan Serang pastri tahu Tugu Kapur di dekat perlintasan keteta api Jublin. Kita sering mendengar bahwa orang-orang yang berupaya membongkar tugu ini sakit lalu meninggal. Apa betul ada penunggunya?

Puisi-puisi ini lahir dari potongan masa lalu saya dan dari cerita-cerita orang-orang terdekat saya: adik, teman, atau tetangga saya. Kata Imam Ghazali, yang paling jauh itu bukan matahrai atau bulan, tapi masa lalu. Kita tidak mungkin bisa kembali. Sekarang mari kita nikmati Puisi Minggu Edisi 19/II/11 Mei – 18 Mei 2025 tentang “Potongan Masa Lalu” karya karya Mars – seorang ibu rumah tangga yang lahir di Madiun tapi kini tinggal di DKI. Seduh kopimu dan nikmati puisi-puisinya.

Buku Menata Hati di Ujung Senja, karya Najwa Fadia, akan menjadi ruang diskusi terbuka bagi siapa saja yang menyukai dunia fiksi. Melalui semangat perempuan, Ayu Alfiah Jonas akan membedah untuk setiap bait yang ada di dalam buku tersebut.

Etika makan di Korea seperti yang terlihat di K-Drama Reply 1988 bukan sekadar aturan meja, tapi cerminan budaya dan rasa hormat antar generasi. Cari tahu perbedaannya dengan kebiasaan makan di Indonesia!

IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya

Itulah kenapa saya menulis: Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-kata. Segala yang ada di Rumah Dunia, bermula dari kata. Beli semen, uangnya dari honorarium menulis esai, cerita pendek, novel, dan skenario program TV. Bermula dari kata, kemudian berwujud jadi Rumah Dunia seperti sekarang.

Tak perlu buku, cukup penampilan menarik dan transfer QRIS. Inilah “Duta Baca” versi swasta yang menjadikan gelar sebagai komoditas.

IMLF-3 2025 di Padang menghadirkan delegasi dari 24 negara, mengusung tema perdamaian dunia lewat bahasa, sastra, dan budaya. Festival ini jadi ajang promosi wisata dan literasi Sumatera Barat.

Tapi penyebutan “urang” (Sunda) di judul buku , bukan “wong” ini menarik. Dua sub kultur yang (asumsi saya) diam-diam menyimpan luka sejarah. Prof. H.M.A. Tihami di endorsmentnya menulis “wong” tetap disandingkan dengan “urang”.

NAMAKU IBNU, anak seorang kuli toko. Ibuku jualan di pasar. Dari ketela, pisang mentah, sampai warung makanan kecil, dan aneka gorengan. Kami keluarga sederhana. Dengan kebun kecil yang kami tanami pohon pisang dan ketela. Ada sedikit bayam katu, dan cabe untuk menunjang hidup keluarga kami saat masa-masa sulit ini.

Bukan cuma sebagai lauk pelengkap, tapi juga sebagai simbol dari tradisi yang kuat banget.

Biarkan dunia maya atau media sosial bergulir dengan sendirinya. Sementara kita harus tetap hidup dengan hal-hal menyenangkan di dunia nyata

Dengan strategi yang tepat, kamu bisa menjadikan masa sulit sebagai peluang emas untuk tumbuh

Kekhawatiran akan punahnya tenun ikat Flores Timur mendorong berbagai upaya pelestarian oleh sekolah dan komunitas lokal demi menjaga warisan budaya ini.

“Petani, Priayi, dan Mitos Politik” bukan sekadar buku sejarah—ini adalah cermin untuk memahami masa lalu, demi membangun masa depan yang lebih baik!

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai warga Kota Cilegon? Robinsar – Fajar apakah akan memenuhi harapan para pemilih dan bukan pemilihnya? Seperti yang diresahkan oleh Moch. Nasir di buku ini, bahwa KKN, infrastruktur, SDM, dan lingkungan bisa diperbaiki menuju motto Kota Cilegon: Akur Sedulur Jujur Adil Makmur.