Rumah Dunia bukan hanya komunitas—ia adalah rumah bagi banyak orang. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan luar biasa ini.
Aku dan Rumah Dunia: Perjalanan Tiga Tahun Menjadi Relawan

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Rumah Dunia bukan hanya komunitas—ia adalah rumah bagi banyak orang. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan luar biasa ini.

Daripada kau habiskan waktu diorganisasi kampus, mending kau gabung ke Rumah Dunia. Kau akan menemukan banyak hal yang tak bisa kau temui di kampus.

Sejak 2010, Rumah Dunia menggelar “Nyenyore Rumah Dunia”, yaitu menunggu waktu berbuka puasa sambil berdiskusi. Pesertanya pelajar dan mhaasiswa. Biasanya minimal 25, maksimal 50 peserta hadir. Kami menyediakan takjil dan makannya. Dananya dari kami – para relawan iuran, simpatisan Rumah Dunia.

Saat belajar menulis di Rumah Dunia, para mentor tidak pelit dan merahasiakan bacaan. Mereka justru senang jika peserta kelas menulis juga membaca buku yang mereka baca.

Pada bulan Ramadan ini, anak pertamaku malah request kepada ibunya untuk dibuatkan kue panekuk tersebut.

Tidak ada sukses karena sendirian. Semuanya hasil kerjasama dengan semua orang. Selain base camp, kualitas relawan, program, pendanaan, juga jejraing, dan dokumentasi-publikasi membuat Rumah Dunia tetap bertahan di gegap gempita literasi.

Rumah Dunia dimulai di garasi rumah pada 1998. Kemudian ke teras rumah. Buku-buku anak kai gelar. Tias Tatanka memulainya dengan membacakan buku cerita kepada anak-anak kampung. Putri perta – Nabila – masih 1 tahun dan sedang mengnadung putra kedua – Gabariel.

Entah sampai kapan kebijakan ini akan berlangsung. Besar harapan agar kebijakan yang menyengsarakan rakyat ini tidak berlangsung lama.

Peribahasa ini sering dikaitkan dengan individu yang hanya mencari kenyamanan sendiri, tanpa mempertimbangkan integritas atau prinsip hidup. Mereka bisa jadi hanya mengikuti perintah demi menyenangkan atasan atau karena takut menghadapi konsekuensi jika melawan. Dalam konteks sosial atau politik, peribahasa ini juga bisa mencerminkan masyarakat yang pasif dan tidak berani bersuara atas ketidakadilan.

Puisi Kota Lama karya Gol A Gong ini penuh dengan nuansa nostalgia dan kritik sosial terhadap perubahan zaman. Ada perasaan kehilangan terhadap masa kecil dan kenangan yang telah terkikis oleh modernisasi. Bioskop, lagu-lagu, dan Kota Tua menjadi simbol perubahan yang tak bisa dihindari.

Lingkar Rasa: Menari, Merasa, dan Menyembuhkan Diri

buku Journey to Andalusia membawa kita pada peradaban Islam yang pernah jaya di tanah Eropa.

Terima kasih, Pak Sariban. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua.

Tiba-tiba seorang teman mengabari dan menawarkan pisang untuk dipanen. Ya jelas, saya tak menolaknya!

Berikut ini adalah beberapa tips menjaga kesehatan selama bulan Ramadhan agar kondisi tubuh senantiasa berada dalam kondisi fit.

Buku ini bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang perjalanan hati dan pikiran.

Bagiku, hidup adalah perjalanan nmenuju yang abadi. Kata-kata diberi makna dan doa. Mari nikmati Puisi Minggu Edisi 9/II/2 Maret 2025 karya Bustan Basir Maras, berdarah Mandar-Sulawesi Barat, yang menghidangkan 8 puisi “Tentang Perjalanan Hidup”. Selamat menjalankan ibadah puasa dengan puisi.