TUA BERNILAI
Omongan Mark Twain bukan isapan jempol. Itu aku buktikan sendiri. Ketika aku berdiri di gang-gang labirin Chowk bazaar, arima tua kota itu tercermin dari gaya dan usia arsitektur setiap bangunannya. Itu makin terasa di sungai Ganga. Sepanjang sungai adalah ghat , teras panjang dengan anak tangga menuju bibir sungai. Orang-orang bebas melakukan aktivitas.

Para turis mancanegara duduk-duduk di anak tangga menikmati jajanan chia, kopi susu khas India, atau menyusuri sungai Ganga dengan perahu. Sedangkan penduduk kotanya bermain cricket. Cita rasa tua sangat tercemin dari warna air yang kehijauan, jenis batu yang aku injak, angin yang membelaiku, dan aroma yang aku hirup.

Sungai Ganga dimitoskan air mata Dewa Shiva, sehingga pemerintah kota melarang penduduknya membuang sampah dan akan menghukum para pengusaha yang mengencingi sungai ini dengan limbah pabriknya tapi jangan kaget jika melihat mayat manusia terapung.

Sungai Ganga dikeramatkan dan disucikan. Abu mayat orang India ditebar di sini. Aku betul-betul tengelam ke dasar legenda atau mitos, seperti yang pernah aku baca di buku-buku; Mahabarata, Ramayana, Sidharta, Pater Panchali, atau Mahatma Gandhi. Hal-hal yang berbau modernitas dikalahkan oleh yang berbau tradisional. Penduduk India dengan sangat khusyuk memegang teguh tradisi. Aku seperti terlempar ke kehidupan masa lampau; ratusan tahun lalu.

Betapa pemimpin kota ini memanjakan para warganya. Bangunan-bangunan tua tidak dihancurkan dan dijadikan magnet pariwisata. Semakin tua, semakin bernilai. Mulai dari arsitektur bangunan, pakaian, bahkan kesenian tradisional mereka. Semua menghargai legenda, mitos, dan tradisi. Identitas kedaerahan (etnic identity) tidak harus musnah ketika identitas nasional (nation identity) dikedepankan.

Walaupun sesekali kisruh politik mereka berawal dari kesukuan dan agama, tapi pluralisme tergambar kuat. Justru nasionalisme India dibangun dari beragam budaya (multy culture) milik mereka sendiri. Itu dibuktikan dengan “Be India buy India”.
Mereka bangga dengan keindiaan mereka tanpa perlu menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kaum kolonial Inggris. Maka tidak heran jika Bollywood, yang mengakar pada tradisi kedaerahan, menerobos hegemony Hollywood. India kini sudah mengancam jadi kekuatan yang John Naisbit formulakan lewat tree revolutions F: food, film, fun (fashion). Bahkan tanpa kita sadari, film-film India, menjadi medium politik dan kebudayaan mereka pada kita.


