BANGGA TRADISI
Aku kini di Serang, ibu kota Provinsi Banten, yang masih muda usianya, dideklarasikan tahun 2000. Apa yang bisa aku banggakan dengan kota ini? Kota yang dibangun dari batu-bata reruntuhan keraton Surosowan . Kota yang didirikan pada abad 18 oleh Jendral Herman Daendless.

Aku sangat ingin berdomisili di Serang. Kakek Emak dari Caringin, Pandeglang, Banten. Aku tidak peduli dengan stigma Banten yang negatif; ilmu hitam dan jawara!
Aku terlanjur jatuh cinta pada Serang atau Banten saat membaca sejarah, bahwa pada abad 17 ada sebuah bandar internasional di Banten Lama, sekitar 10 kilometer sebelah utara kota Serang sekarang. Apalagi ketika aku tahu, pada abad 18, kesultanan Banten menolak kehadiran Belanda dan kerja rodi. Mereka memilih keraton Surosowan hancur dibumihanguskan Daendles daripada jadi daerah jajahan.

Bagi aku yang masih muda saat itu, mempertahankan yang hak adalah simbol lelaki. Melawan kebatilan adalah pertanda bahwa wilayah itu berkarakter sangat kuat. Kentara sekali, bahwa para pemimpin di kesultanan Banten sangat berpihak pada rakyat.

Kearifan lokal (local wisdom) tercermin kuat dari cara kepemimpinan para Sultan lewat maha karyanya, irigasi di Tasik Kardi, alun-alun sebagai ruang publik di depan keraton Surosowan dan masjid agung Banten, serta lintas agama di kampung Pecinan dan kelenteng di dekat benteng Spellwijk.

