Garin Nugroho mengingatkan para pemimpin negeri kita, bahwa pertumbuhan masyarakat Eropa-Amerika pascakrisis PD II berbasis pada kemampuan mengembangkan 3 aspek kebudayaan (kesenian dalam arti luas), yang melandasi seluruh strategi politiknya.

Pertama, membangun produk-produk kebudayaan bersifat umum, massal, ekonomis, dan cepat, khususnya industri budaya populer.

Kedua, merawat dan mengelola kebudayaan klasik, yakni peninggalan dan pemikiran kesejarahan. Terakhir, membangun pemikiran dan penciptaan alternatif serta penemuan-penemuan baru, untuk mampu memberi nilai tambah, menembus stagnasi, dan memberi pertumbuhan selera, serta ruang publik bagi pluralisme.

Aku jadi ingat petuah sakti orang Baduy Dalam di Kanekes, Banten Selatan, bahwa kenapa mereka menolak menyekolahkan anak-anak mereka? Ternyata mereka khawatir, jika anak-anak mereka sekolah, mereka jadi pintar dan kepintaran mereka bukan dipergunakan untuk hal-hal kebaikan, tapi justru untuk membodohi orang lain.

