Aku mulai membanding-bandingkan India dengan Serang sekarang. Jika sungai Varanasi tabu dijadikan jamban, di Serang semua sungai bisa menjadi fungsi apa saja; jamban atau bahkan tempat bermuara limbah semua pabrik.

Para pemimpin di Serang tidak peduli lagi, apakah rakyat yang memilihnya sejahtera atau tidak. Lalu aku teringat Mahatma Gandhi dengan semangat swadeshi, merentangkan kedua tangannya sebagai simbol pelayanan kepada rakyatnya, yang ditandai dengan baju khadi buatannya sendiri.

Betapa Gandhi menganggap rakyat adalah pemilik negeri yang mesti dilayaninya. Itu tidak berbeda dengan Sultan Ageng Tirtayasa dulu. Tapi yang terjadi di Serang kini, kadang untuk meloloskan LPJ Bupati, karya-karya seni para pendahulu mereka, rela dihancurkan demi tahta dan harta.

Kini di kota Serang, aku tidak melihat tradisi yang bisa dibanggakan. Sejak memasuki kota Serang dari pertigaan Serang Timur, mata ditusuki baligo-baligo ukuran raksasa. Di depan gedung Golkar, gelagar raksasa bergambarkan produk rokok terkenal menonjok mata. Terus membentur ke gedung negara, ke nol kilometer, mataku makin perih oleh begitu banyaknya iklan-iklan memabukkan di kiri-kanan jalan, tidak memberikan ruang bagiku untuk bernapas. Aku jadi teringat sepenggal puisi Toto ST Radik : kampungku dikepung api/dikepung api.

Dimana aku bisa memiliki sebuah ruang publik? Ruang dimana aku bisa bernapas lega bersama anak dan istri? Ruang dimana aku bisa terbebas dari belanja, belanja, belanja…, dan belanja lagi. Alun-alun Serang tempatku tumbuh, besar, dan bermimpi, kini dipenuhi oleh iklan-iklan dengan penempatan yang seenak udel. Tak ada lagikah ruang tersisa, agar mata ini bisa terbebas dari “api”?

Apa yang sudah para pemimpin Serang lakukan padaku? Pada kami – para warganya? Publik dijerumuskan oleh mereka menjadi masyarakat konsumtif dan hedonis. Alun-alun sebagai ruang publik, dimana pertemuan sosial-budaya masyarakat tanpa mengenal batasan umur dan status sosial bahkan lintas gama, keberadaannya mulai diobok-obok dengan rencana pembangunan mall. Alun-alun Serang yang menjadi titik nol atau sebagai ruang publik menjadi penyatuan unsur pemerintahan, agama, ekonomi, dan sosial terancam porak-poranda oleh keberadaan mall.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==