Tiga Pilar Literasi Keluarga Bapak dan Emak

Kemdikbudristek RI pada 2015 mencanangkan Gerakan Literasi Nasional. Ada 3 unsur yang bisa membuat kita naik kelas, yaitu pertama literasi keluarga, kedua literasi masyarakat, ketiga literasi sekolah. Literasi keluarga memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup kita. Banyak sekali keluarga-keluarga yang kehilangan anak-anaknya karena kurang terbangun literasi keluarga di rumah.

Tiga pilar Literasi Keluarga yang dibangun Bapak dan Emak adalah:

1. Olahraga lari pagi. Selesai salat subuh, kami semua anak-anaknya harus lari pagi. Rumah kami di seebelah selatan alun-alun kota Serang, Banten. Kami lari pagi di sana hingga pukul 06.00 wIB. Kemudian mandi, sarapan nasi goreng dengan irisan telur buatan Emak. Kadang lauknya berganti-ganti; nasi goreng plus irisan tempe atau irisan tahu. Supaya badan kami tidk kaku, Bapak melatih kami main badminton, Untuk Kota Serang di era 80-an kami merajai. Dimulai dari kakak, saya, dan adik secara bergiliran.

2. Membaca buku. Bapak membikin rak buku. Inilah harta karun kami. Bapak memanjakan kami dengan koran Kompas dan Suara Karya. Majalah Femina, Gadis, HAI, Intisari, dan Bobo. komik, novel, buku biografi orang-orang hebat. Sayalah yang paling getol membaca. Dari kebiasaan membaca ini, entu sangt menakjubkan. Saat SD, saya sudah membuat sandiwara radio. Di SMP membuat komik.

Dan SMA membuat majalah. Beberapa puisi juga sudah dimuat di majalah HAI. Puncaknya pada 8 Maret 1988, cerita serial saya yang berjudul Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI. Gramedia menerbitkannya jadi 10 buku sepanjang 1989-1994. Kemudian Fajar Nugros dengan bendera IDN Pictures melayarlebarkan film Balada Si Roy. Sekarang bisa ditonton di Prime Video.

3. Mendengarkan cerita sebelum tidur. Ini tugas Emak. Kami jadi mengenal dongeng nusantara dan dunia. Kisah-kisah HC Andersen. Cerita epik seperti Mahabarata dan Ramayana sehingga saya traveling enam bulan di India. Bahkan saya mengunjungi kota Kurusetra yang jadi medan pertempuran Pandawa vs Kurawa. Ini juga kami terapkan kepada keempat anak kami. Alhamdulillah keempat anak kmi tidak ada yang terkena narkoba atau terseret arus anak zaman sekarang. Si sulung mendapatkan beasiswa kuliah di SunYat Sen University. Anak kedua sejak kelas 5 SD (2012) mendapatkan beasiswa di Abu Dhabi – sekarang S1 dan lolos S2. Putra ketiga kuliah film di Akademi Film Yogya. Si bungsu di Sastra Korea UPI Bandung.

Dari kebiasaan mendengarkan cerita Emak ini, saya memiliki sense of crisis terhadap lingkungan. Pada 1998 bersama Tias Tatanka – istri saya, dibantu para sahabat seperti Toto ST Radik, Rys Revolta, Andi Suhud, Si Uzi, Abdul Malik, Bagus Bageni, Firman Venayaksa, dan para relawan membangun pusat kebudayaan bernama Rumah Dunia di Kota Serang Banten. Kami fokus di jurnalistik, sastra, dan film.

Tiga pilar itulah yang kemudian membentuk saya seperti sekarang ini. Kekuatiran lingkungan bahwa saya akan jadi beban sebagai orang cacat di masa depan – alhamdulillah – tidak terbukti. Buku membuat saya jadi berdaya. Itu sebabnya ketika Perpustakaan Nasional menetapkan saya sebagai Duta Baca Indonesia, 30 April 2021, tagline yang saya usung adalah “Berdaya dengan Buku”.

Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025
*) Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==