Secara tekun Gong kecil melakukan dua kegiatan itu. Bada subuh, dia jogging di alun-alun kota Serang. Kemudian membaca apa saja. Dia tumbuh jadi anak yang serba ingin tahu. Apa yang dikatakan ayahnya itu benar, tidak sekadar lupa tubuhnya cacat tapi prestasi pun dia raih. Dia masuk team sekolah untuk cabang badminton, bersaing dengan yang berlengan dua. Bahkan di Serang, dia juara kedua untuk level yunior.

Pada 1985, dia berpindah ke olahraga cacat. Menyabet emas di PON Cacat se-Indonesia, 1985, untuk badminton. Di level Asia Pasific (Asian Para Games), 3 emas badminton untuk tunggal, double, dan beregu (Solo, 1985), di Kobe Jepang (1989) menyabet 2 emas double dan beregu badminton, serta single meraih perunggu.
Dari kegemarannya membaca, Gong hobi traveling. Bahkan kuliahnya di Fakultas Sastra Indonesia, UNPAD Bandung ditinggalkan (1982-1985). Sudah 125 buku ditulisnya, mulai dari novel, antologi puisi dan cerpen, how to, dan parenting.


