
Pada umur 11 tahun Gong (1974) jatuh dari pohon. Tangan kirinya harus diamputasi. Saat itu ia dan teman-temannya menyaksikan beberapa tentara terjun payung. Ia menantang kawan-kawannya terjun payung dengan cara meloncat dari pohon. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin. Ayahnya, Harris Sumantapura, guru olahraga berpesan, “Kamu harus banyak membaca, agar lupa bahwa kamu hanya memiliki satu tangan. Dan kamu akan menjadi seseorang.” Nasihat sederhana itu benar-benar diresapinya sehingga ia berhasil menjadi penulis.
Nama pena “Gol A Gong”, ketika ia bertanya kepada ibunya, seorang guru di sekolah keterampilan putri, Serang. “Gong” itu berarti karyanya “goal” atau “masuk”, dan “gong” itu harapan, agar karya-karyanya menggema di hati pembaca. Sedangkan “A” berarti “Allah”. Filosofinya adalah “kesuksesan itu milik Allah”.
Gong mengawali karir di dunia tulis menulis dengan menjadi wartawan. Tahun 1989, pria penggemar bulutangkis ini tercatat sebagai wartawan tabloid Warta Pramuka (Kompas Gramedia). Kemudian pada 1994 hingga 1995, ia bekerja di tabloid Karina. Ia juga sempat menjadi reporter freelance di beberapa media massa.

