Dia menunggu di depanku sambil memandang dengan mata mau nangis karena dia nggak sanggup menghapus sendiri. Hahaha.
Yaudah, kubantuin menghapus. Setelah itu dia riang menggambar lagi. Ada-ada aja.

Aku sempat tercenung melihat kertas yang gambarnya sudah kuhapus. Jejak guratan pensilnya masih ada.

Aku lalu memikirkan jejak-jejak yang pernah kubuat di Rumah Dunia, mungkin dengan tekanan yang lebih mendalam, dan mungkin telah membuat luka beberapa orang yang tidak sepaham.

Maafkan.
Barangkali tak mampu kuhapus, atau sudah terhapus oleh waktu. Tapi aku yakin, kenangan tak mudah sirna. Sekali lagi, mohon dimaafkan.


