Tunggu apalagi, mari bergabung menjadi keluarga di Rumah Dunia. Raih kesempatan menjadi penulis hebat di masa depan. Semua bisa menjadi penulis . Narahubung: 085813345508 (Fazri)
Mari Bergabung di Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan ke-41

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Tunggu apalagi, mari bergabung menjadi keluarga di Rumah Dunia. Raih kesempatan menjadi penulis hebat di masa depan. Semua bisa menjadi penulis . Narahubung: 085813345508 (Fazri)

Simbolisme yang Gol A Gong gunakan terasa begitu mendalam. Lontong sayur yang biasanya kaya akan rasa, menjadi metafora untuk kehidupan yang datar dan kehilangan “santan” atau intinya. Ada rasa rindu, kepergian, dan perasaan terasing yang kuat di sini.

Maui Space diharapkan dapat menjadi ruang bagi para pelaku seni dan budaya serta masyarakat Kota Serang untuk berkreasi dan bersosialisasi.

Yayasan Sketsa Mimpi ini memiliki beberapa program unggulan, seperti bidang kebencanaan melalui Fino Badut dan bidang pemberdayaan melalui TBM Awan. Yayasan ini berlokasi di Kampung Nagreg, Desa Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Provinsi Banten

Jika ingin mengundang saya pelatihan, kontak 0819 06311 007. Pelatihan menulis brsama saya bisa mendapatkan banyak hal, terutama tentang proses kreatifnya.

Dalam seminar biasanya kita tidk sendirian jadi narasumber. Maka ikuti instruksi moderator. upayakan poinppoin pentingnya saja. Kecuali kalau sendirian, yang biasanya dilbeli “motivasi” kepada para peserta. Maka kita bisa bebas mengatur acara.

Beliau membersamai pertumbuhan anak-anaknya sebagai relawan di Rumah Dunia dengan ikut juga menjadi relawan.

Saat saya kecil, setiap musim rambutan dan duren rumah penuh dengan kiriman buah-buahan itu. Bapak dan Emak saya guru di Serang, Banten. Murid-muridnya dari Warung Gunung, Petir, Walantaka, Pamarayan, Curug, Taktakan, Ciomas, Padarincang, Sayar, Mancak, Pulo Ampel, Pulo Panjang. Kampung-kampung itu pada tahun 1970-an penghasil buah-buahan.

Rasanya ada sebuah cerita yang tersimpan dalam setiap sendok es puter yang aku makan. Rasanya seperti menghormati tradisi lama Solo yang tetap lestari meskipun zaman terus berubah. Setelah membeli es puter, aku melihat kenangan dari budaya Solo yang dihargai dan disukai oleh masyarakatnya.

Ayo, sarapan karena kamu akan beraktivitas seharian. Jika bica diet, itu sebetulnya untuk orang yang sakit. Misalnya nadan gemuk, kdaar gula tinggi, kolesterol. Kalau sehat, makan yang banyak dan beraktivitas.

Makna mendalamnya dari peribahasa “Tiada Akar Rotan pun Jadi” adalah pentingnya fleksibilitas dan syukur. Saat kita bersyukur atas apa yang ada, hidup terasa lebih ringan, dan kreativitas kita justru terasah untuk mencari solusi dalam keterbatasan.

Jadi orang cacat bukan pillihan. Tapi barangkali itu yang kemudian membuat saya jadi kuat dan tahan banting dalam menjalani hidup. Saya tahu jika bermalas-malasan sebagai orang cacat akan tergurur.

Puisi ini menggambarkan ketulusan, kegetiran, dan harapan yang terus hidup, meski dibalut lelahnya perjuangan sehari-hari. Apa menurutmu ada sisi lain yang perlu diungkap dari puisi ini? Kamu pernah makan nasi uduk dan memerhatikan pedagannya?

Semua pengalaman ini saya tulis dan dimuat bersambung di majalah Anita Cemerlang. Kemudian dibukukan Puspa Swara dengan judul “Perjalanan Asia”. Perjalanan yang mengasyikan. Tapi saya tidak mau mengulanginya lagi.

Kopi dan teh. Dua jenis minuman yang sudah mendunia dan bikin ketagihan. Tadinya cuma di pinggiran jalan dengan teh tubruk dan kopi tubruk, sekarang sudah jadi bagian dari kapitalisme.

Rata-rata pengunjung lebih banyak datang ke lokasi pada saat sore atau hari weekend. Dan saat renang tidak perlu khawatir dengan keamanannya, karena ada tentara yang stand by untuk memperhatikan kondisi pengunjung. Apabila ada yang tenggelam mereka dengan sigap turun tangan

Tak akan ada lagi penutup percakapan semacam, “Gitu ya, Bu! Tengkyu, Bu. Yuk, yuk, assalaamu’alaikum.”
Selamat mendiami tempat nyaman, Om. Selamat menunggu panggilan memasuki Jannah dengan tenang.
Al Fatihah untuk Abdul Salam bin H Husni. Allahummaghfirlahuu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu