Nasrul bergegas menuju mesjid kampung Betawi, kampung dimana dia mengontrak kamar petak, sambil mengalungkan sarung polengnya.
Sepeninggal Nasrul, Iman bangkit. Dia menyenderkan tubuhnya, menatap ke pintu kamar. Suara langkah kaki Nasrul masih terdengar di telinganya. Subuh ini Nasrul adzan untuk yang kesekian kalinya.
“Sekarang aku yang adzan, ya,” pernah suatu subuh, Iman meminta kesempatan untuk adzan.
“Ah, suaramu tidak enak begitu. Nanti yang malu bukan cuma aku, tapi kampung kita,” Nasrul tidak mengabulkan permintaan Iman.
“Sekali saja, Rul. Aku kangen sama kampung.”
“Tidak bisa!”
Iman tidak memrotes. Apalagi marah. Dia tidak berhak adzan, jika selama masih ada Nasrul. Suara Nasrul memang merdu. Nasrul adalah sang bilal teladan. Sejak kecil Nasrul sudah terkenal dengan sebutan bilal kampung. Setiap lomba adzan pas Muharam, Nasrul selalu nomor satu. Sedangkan dirinya selalu yang kedua. Pernah dia dan Nasrul ikut lomba adzan tingkat kabupaten, mewakili kampung mereka. Nasrul mendapat nomor tiga, dirinya tidak meraih nomor.
Ternyata juara adzan tidak membuat hidup Nasrul beruntung. Pendapat jika kita beribadah di jalan Allah, hidup akan terjamin baik, melimpah rezekinya, ternyata tidak berlaku bagi Nasrul. Selulus STM, Nasrul menganggur. Bapak dan ibu Nasrul yang petani, tidak kuasa menanggung beban biaya perguruan tinggi yang selangit. Sawah beberapa petak sudah dijual orangtua Nasrul untuk pergi haji. Hanya tersisa dua petak saja untuk modal mereka hidup. Nasrul tidak tega menyuruh orangtuanya untuk menjual kedua petak sawah itu, agar bisa kuliah di Bandung. Nasrul melamar ke beberapa pabrik di kotanya. Tapi pemilik pabrik tidak pernah membukakan pintu bagi Nasrul untuk bekerja. Alasannya selalu sama: tidak ada lowongan.
“Aku ini jadi ahli mesjid, tapi hidupku seperti ini,” Nasrul putus asa mencari kerja di kotanya. “Gusti Allah tidak adil…”
“Istighfar, Rul, istighfar,” Iman mengingatkan. Dia yang selalu nomor dua, justru selulus SMP sudah mengadu nasib dan memiliki pekerjaan di Jakarta. Dia membujuk Nasrul untuk ikut ke Jakarta. “Kita jualan bubur kacang dan mie rebus di trotoar dengan gerobak. Modalnya sekitar 3 juta rupiah.”
“Tiga juta?”
“Dua juta kita pakai bikin gerobak. Sisanya buat sewa kamar, sewa tempat, dan modal awal,” kata Iman bersemangat.
“Dari mana modal yang tiga juta itu?”
“Kita patunganlah. Kamu minta sama Bapak!”
“Kamu sudah punya?”
“Aku nabung setiap hari. Sekarang aku ingin buka usaha sendiri. Makanya aku ajak kamu. Setahun jalan, aku yakin kita sudah bisa punya gerobak sendiri-sendiri. Bagaimana?”
“Berarti satu setengah juta, ya!”
“Percayalah, di Jakarta itu sudah kebanyakan orang! Mereka tidak cuma makan nasi saja! Bubur kacang sama mie rebus juga dimakan!”

