Nasrul membeberkan rencana ke Jakarta kepada bapak dan ibunya. Untung orangtuanya termasuk orang yang mengerti agama, bahwa bekerja itu adalah perintah gusti Allah. Rencana Nasrul didukung. Bapaknya meminjam uang ke Pak Tarno, dengan bunga 40% perbulan.
Nasrul mendapati pintu mesjid sudah terbuka. Selalu saja marbot lebih awal bangun darinya. Dia menuju tempat wudhu. Marbot muncul dengan sarung melilit pinggang. Kaos oblong masih menggantung di pundaknya yang kendor berkerut.
“Ayo, dua menit lagi masuk waktu subuh,” marbot mengingatkan.
“Siap, Pak!” Nasrul bergegas mengambil wudhu. Tidak lama dia sudah berdiri di depan mikrofon. Terbayang di wajahnya, suaranya yang merdu akan menembus jendela kaca rumah-rumah di kampung Betawi ini, membangunkan para penghuninya. Dia berdiri tegak. Matanya menatap ke barat. Tangan kanannya ditempelkan di telinga. Mulutnya terbuka. Dadanya membusung, mengumpulkan udara.
Marbot berdiri di pintu mesjid, bersiap mendengarkan suara bilal yang merdu.
Nasrul masih membuka mulutnya. Otot rahang bawah dan lehernya mengeras. Tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menutup mulutnya. Mengulangi gerakan dari awal. Tangan kananya diturunkan. Kedua kakinya dilemaskan. Dadanya dibusungkan, ditarik ke atas. Tangan kanannya seperti tadi, ditempelkan ke telinga. Mulutnya terbuka lagi….
Marbot menaikKan kedua alis matanya. Dia menyelidik dari tempat berdirinya.
Tetap tidak ada suara.
Marbot menyeret langkah kedua kakinya. Terbungkuk-bungkuk dia mendekati Nasrul. Menyentuh pundaknya. “Sudah masuk subuh…,” marbot mengingatkan lagi.
Nasrul tidak bergerak.
Marbot berjalan ke depan. Lelaki berumur 60 tahun itu melihat mulut Nasrul ternganga dan wajahnya pucat serta tegang. “Kenapa kamu?” marbot keheranan.
Nasrul tidak bisa mengatupkan gerahamnya. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan wajahnya dengan penuh ketakutan.
Marbot merasa iba. Dia menyentuhkan lengannya ke wajah Nasrul. Memijiti pipi dan rahang Nasrul. “Bagaimana?” marbot terus memijiti, agar otot rahang Nasrul melemas. “Bisa ditutup?”
Nasrul mencoba menutup mulutnya perlahan. Bisa. Wajahnya berseri-seri. “Terima kasih, Pak,” dia menggerak-gerakkan mulutnya, melemaskan lagi otot-otot wajahnya.
“Ayo, adzan…”
Nasrul dengan gembira bersiap-siap lagi. Sebelum beradzan, dia melihat ke jam dinding. Sudah lewat limat menit.
“Kenape? Kok, belum adzan juga?” terdengar suara Haji Soleh di pintu.
“Sebentar, Pak Haji,” Nasrul langsung mengambil ancang-ancang. Udara sudah memenuhi rongga dadanya. Mulutnya terbuka….
Lagi-lagi tidak ada suara.
Marbot dan Haji Soleh saling berpandangan.
“Kenapa si Nasrul? Sakit gigi?” haji Soleh tersenyum lucu.
“Kagak tau ane, Pak Haji!” marbot tertawa.
Kedua lutut Nasrul bergetar.
Iman muncul dengan wajah keheranan, “Kenapa, Pak Haji? Saya tidak mendengar Nasrul adzan? Sound sistemnya mati?” Iman berjalan ke tempat Nasrul berdiri. “Lho, kok tidak adzan, Rul?”
Nasrul menengok, mulutnya masih menganga. Wajahnya pucat. “Agghhh..,” itu saja suara yang keluar dari mulut Nasrul.
“Astaghfirullah!” Iman kaget, meraba dadanya.
“Elu adzan, Man! Cepetan!” perintah haji Soleh.
Nasrul tidak bisa menolak. Dia mundur dan memberikan tempatnya pada Iman. Mulut Nasrul masih terbuka. Iman menatapnya dengan seribu tanya.
Sudah seminggu ini Nasrul kehilangan suara merdunya. Setiap dia berdiri di depan mikrofon hendak beradzan, suara merdunya tidak keluar. Mulutnya hanya ternganga saja. Tidak ada sedikitpun suara terdengar. Posisinya sebagai bilal di kampung asli Betawi itu resmi diambil alih oleh Iman, teman sekampungnya. Suara Iman memang tidak semerdu Nasrul. Tapi itu tidak penting bagi haji Soleh dan marbot.
Nasrul tidak tahan setiap subuh tiba harus mendengar suara Iman beradzan. Dia memilih sholat di kamar kontrakannya saja. Bahkan memasuki hari keenam, Nasrul memutuskan pulang ke kampung. Dia menangis di pelukan bapak dan ibunya.
“Apa salah Nasrul, Pak? Kenapa gusti Allah menghukum Nasrul?” tangisnya memenuhi rumah berdinding setengah bata dan bilik.

