Orang-orang kampung memenuhi teras dan halaman rumahnya. Santer beredar di orang kampung, bahwa Iman sudah mengguna-guna Nasrul, sehingga suara merdu Nasrul saat adzan tidak terdengar.

“Saya tidak menyangka, kalau Iman jahat sama Nasrul,” ayah Nasrul berpidato di depan orang kampung. “Padahal Iman itu teman sekampung. Apa salahnya ya, kalau adzannya gantian? Selang-seling saja!”

Nasrul menundukkan kepala.

“Ya, mana mau si Iman!” seorang warga mengajukan pendapatnya. “Katanya, jadi bilal di Jakarta itu enak. Bisa dapat tunjangan makan harian!”

“Wah, itu baru bilal! Apalagi jadi khotib jum’at!”

“Imamnya juga!”

“Bisa-bisa setahun tinggal di Jakarta, udah kebeli motor! Cuman jualan agama doang!”

Warga kampung tertawa.

“Siapa tahu nanti masuk televisi!”

“Udah nggak zaman masuk TV! Youtube, dong!”

Orang kampung tertawa senang.

Ayahnya sudah beberapa kali mengajak Nasrul berobat ke orang pintar di kampungnya. Bahkan ke kampung yang lain. Segala macam ramuan dicobanya, tapi setiap dia hendak adzan di mesjid kampungnya, setelah berdiri di depan mikrofon, suara merdunya tetap tidak keluar.

Nasrul tidak percaya lagi terhadap dukun. Tapi dia tidak putus asa. Tiap hari pekerjaannya hanya masuk-keluar mesjid di kampungnya, mencoba untuk beradzan. Tapi tetap saja suara merdunya tidak terdengar. Dia memutuskan untuk mutih, hanya meminum air putih saja. Bahkan bertapa di makam keramat. Lambat laun, penyakit menggerogoti tubuhnya. Dia jatuh sakit dan terbaring di dipan reyot kamarnya.

Iman datang menjenguknya. Menghiburnya. Bahkan mengatakan, bahwa kabar dirinya mengguna-guna Nasrul itu tidak betul. Nasrul tidak memberikan reaksi apa-apa di tempat tidurnya. Kedua matanya tetap terpejam.

“Kalau kamu mau, Rul, sekarang juga aku akan menyerahkan posisi bilal kepadamu. Kalau kamu tidak percaya, ayo, ikut aku ke Jakarta,” Iman berbisik di telinga Nasrul. “Aku kewalahan jualan sendirian…”

Kedua mata Nasrul terbuka.

“Nanti subuh aku ajari lagi kamu adzan di mesjid, ya,” ajak Iman.

Subuhnya, orang-orang kampung digemparkan oleh mayat lelaki, yang tergolek bersimbah darah di depan mikrofon mesjid kampung. Leher mayat itu hampir putus, memisahkan kepala dari tubuhnya. Mayat itu adalah Iman. Dan tidak jauh dari mayat itu, di pojokan tempat imam, Nasrul memegangi golok penuh darah.

“Akulah bilal nomor satu!” tawanya terdengar ke segenap penjuru kampung.

*) Rumah Dunia, Februari 2005

*) Dimuat di Republika Minggu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==