Kami mereviu bacaan tadi, sambil aku jelaskan agak salah-salah dan mereka cepat mengoreksi. Ini membuat mereka mengingat kembali inti bacaan. Kadang ada anak yang sudah berkali-kali membaca tidak mengerti juga maksud bacaan. Tetapi ketika sekali dibacakan, ia langsung paham.

Jadi ruang-ruang seperti ini yang kadang tanpa kita tahu tetap lengang karena tak ada yang sempat mengisi dan memenuhinya. Bukan salah siapa-siapa, tapi salah saya, salah Anda, dan kita semua. Hahaha. Tapi mau disalahkan juga nggak bisa karena cuma orang luar, bukan orang tua atau keluarganya. Gak ada hak, lah.
Selesai membaca, anak-anak kuminta menggambar orang di kertas HVS ukuran A4. Kukenalkan teknik menggambar manusia yang proporsional dengan metoda lingkaran bertumpuk. Ini pernah kupelajari di Kelas Kang Maman Mantox. Satu bagian untuk kepala, satu badan, dan sisanya kaki.

Hasilnya ya beragam. Ada yang fokus membuat lingkaran bertumpuk dan kebingungan bagaimana menjadikannya gambar orang. Ada yang langsung menggambar tanpa memperhatikan proporsi. Ada yang menggambar lingkaran besar, tapi hasil gambar orangnya kecil. Wkwkwk.



