Seperti biasa anak-anak menggambar, lalu menuliskan cerita. Kali ini mereka menggambar bentuk tangannya sendiri lalu diwarnai atau dihias.

Saat karya dikumpulkan mereka harus menceritakan arti gambarnya. Aku perhatikan beberapa anak yang awal bercerita masih gugup, ragu, takut, malu, kini mulai terbiasa mengungkapkan idenya.
Bagi beberapa yang merasa kesulitan bercerita, harus dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan seputar karyanya. Sedangkan buat yang belum mampu mengungkapkan ide, aku bebaskan untuk mengumpulkan karya saja.

Ada juga yang waktu ditanya kenapa gambar tangan ada matanya, ia menjawab: Nggak tahu, ngikut contoh dari Bu Tias aja. Oalah. Hahaha. Aku memang mencontohkan gambar tangan dengan hiasan mata.



