Tapi bukan aku kalau menyerah begitu saja. Aku iming-imingi akan mendapat hadiah, yang dibelikan oleh Aa Gabriel, anak keduaku. Padahal uangnya juga dari aku. Hadiahnya pun cuma makanan kemasan yang tidak begitu mahal.
Tapi mendengar seseorang yang jarang datang dan memberi hadiah, itu sudah menjadi hadiah tersendiri buat mereka.

Mengenai hadiah atau iming-iming ini, aku sudah melakukannya sejak 25 tahun lalu, meski tidak setiap hari. Ada rentang waktu aku tidak menyediakan hadiah karena dompet menipis. Ini bukan perkara sombong dengan dalih “Si Paling 25” , “Si Paling Lama” atau “Si Paling Duluan Melakukan”. Aku cuma mau bilang bahwa memberi hadiah atau iming-iming ini nggak bahaya, sesuaikan saja dengan kemampuan finansial. Menurutku jauh lebih berdampak bagus. Anak-anak lebih semangat bergiat, perut mereka nggak nagih jajan, dan kegiatan tetap berlangsung.

Ok. Balik lagi ke ceritaku, ya. Ketika telah terkumpul anak-anak yang bersedia membaca dan bercerita, tidak ada yang mau maju pertama. Akhirnya aku iming-imingi lagi, urutan pertama dan kedua akan mendapatkan tambahan hadiah. Berebutanlah beberapa dari mereka menjadi dua pertama. Mereka tahunya hadiah akan lebih banyak.

Begitu berjajar urutan yang akan maju, mulailah yang deret belakang berpikir ulang untuk ikut karena memikirkan segala risikonya. Membaca biasa mudah bagi mereka, tapi menceritakan yang mereka baca itu bukan hal gampang. Apalagi ketika mereka mulai melihat penampilan urutan awal.



