Saya mau cerita tentang Rumah Dunia, ya. Sudah lebih 20 tahun saya tinggal di lingkungan di mana Rumah Dunia (RD) berada. Bagi saya, rumah yang saya huni bak jembatan yang menghubungkan dua budaya, anak-anak komplek dan anak-anak kampung.


Saya tidak bermaksud membandingkan kedua pihak, karena rumah saya menghadap ke arah komplek, sementara saya juga berinteraksi dengan anak-anak kampung yang datang ke RD lewat halaman belakang rumah. Saya berhubungan baik dengan masyarakat sekitar, karena begitulah seharusnya salah satu sifat manusia sebagai makhluk sosial.


Anak-anak komplek pun sebagian suka melewati pinggir rumah saya bila hendak ke RD. Begitu pula ibu-ibu komplek yang hendak menemui ibu mertua saya yang tinggal di lingkungan RD waktu itu – Emak suami saya wafat Juli 2022. Sementara anak-anak kampung sering datang ke rumah meminta daun sirih. Buat saya itu semua membahagiakan.

Sama halnya ketika saya membaca tulisan anak-anak yang ikut aktif dalam wisata studi dan wisata tulis. Mereka dibiasakan menuangkan hasil pikirannya ke dalam sebuah karangan, puisi atau prosa. Berbagai warna muncul di sana. Gaya bahasa yang aneh pun kerap muncul.

