Saya dan Jordy tentu gembira, karena spot-spot fotonya dipakai untuk selfie dan wefie. Jum’at besok, H3 Lebaran, tepatnya 2 April 2024, keluarga besar kami – Haris Sumantapura, akan datang halal bihalal.
Halal Bihalal Keluarga Besan

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Saya dan Jordy tentu gembira, karena spot-spot fotonya dipakai untuk selfie dan wefie. Jum’at besok, H3 Lebaran, tepatnya 2 April 2024, keluarga besar kami – Haris Sumantapura, akan datang halal bihalal.

Sebagai penyeimbang asupan supaya tidak oleng, sayur tetap aku konsumsi. Maka jangan heran ada sayur sop dalam piringku bersama gemblong dan rabeg.

Saya harus menjaga iklim literasi baca dan tulis tetap hidup di masyarakat bawah. Jika masih di fase kuantitas, tidak apa-apa. Saya terus mendampingin, agar masing-masing meningkatkan kualitasnya.

Ada 44 bab dalam buku ini yang mudah dipahami, padahal isinya sarat istilah medis. Banyak yang bertentangan dengan kebiasaan dan mitos, tapi logis menurut kesehatan. Misalnya saat mimisan, siapa masih suka mendongakkan hidung, berharap darah berhenti

“Papah ingin Banten ini maju. Kita mulai dari anak-anak kecilnya. Kita ajarin banyak ilmu, supaya kelak mereka bisa membangun Banten dengan cara mereka sendiri.” Lanjut suamiku.

Kamu punya ransel? Masih suka dipakai? Atau sudah disimpan di gudang? Coba periksa ranselnya, ada besinya nggak?

Bapak membelikanku radio transistor. Itu sebetulnya untuk kakak dan 3 adikku juga. Tapi aku diperbolehkan mendominasi jika hendak rekaman sandiwara radio. Semua mendukung. Dari sanalah aku mulai bergembira memasuki dunia kreativitas.

Bagi saya yang biasa merayakan lebaran di luar kampung halaman, tentu ini merupakan sebuah momen menggembirakan, dulu ketika masih d pondok atau ketika Sekolah di Tangerang saya biasanya pulang setelah pelaksanaan sholat Id.

Mari kita dukung Dandelion Publisher sebagai orang-orang yang tetap mempertahankan tradisi membaca buku konvensional. Kita sebagai penulis mendukungnya dengan menulis cerita-cerita yang baik dan penuh makna, sementara pembaca mendukungnya dengan membeli buku.

Serang oh Serang. Sekarang usinya 24 tahun. Tapi gap infrastrukturnya dengan kota-kota lain menganga. Padahal Kota Serang dekat dengan Jakarta. Tapi gedung untuk menampung kreativitas anak muda saja tidak punya. Alamak!

Saya dan Tias Tatanka sudah sepakat, bahwa tidak akan mengekang mimpi mereka. Jordy sekarang kuliah di Akademi Film Yogya dan si bungsu di Sastra Korea, UPI, Bandung. Bahkan ketika keempat anak kami mengatakan, “Kami tidak akan tinggal di Serang. Nanti kami akan transfer bulanan, membantu Rumah Dunia,” itu sudah merupakan sikap optimis.

Kini tak ada lagi kembang api di rumah. Bapak dan Emak telah pergi. Di rumah pun tak komplet lagi. Nabila, Jordy, dan Natasha. Putra kedua – Gabriel, tidak pulang, karena menyelesaikan skripsi di Abu Dhabi.
Di Indonesia itu berbeda puasa hari pertama dan lebaran, itu sudah biasa. NU dan Muhammadiyah, sering berbeda pendaat. Ka,li ini Abuya Dimyati dari Cidahu Pandeglang berbeda dengan lebaran versi pemerintah.

Lebaran sebentar lagi. Sebulan sudah kita berpuasa. Sekarang kita mudik. Begitu juga relawan Rumah Dunia, mudik ke kampungnya masing-masing.

Suamiku sendiri sudah menyematkan nama yang diidamkan sejak lama untuk sebuah tempat berkumpul. Rumah Dunia, begitu sering disebutnya.

Saya sudah 26 tahun tinggal di Komplek Hegar Alam, Kota Serang. Entah sudah berapa kali salat Iedul Fitri di masjid Komplek Hegar Alam. Ada banak perubahan Warga datang dan pergi. Kami saling memaafkan.

Dulu parcel. Kini hampers. Begitulah kebudayaan. Setiap lebaran selain tradisi ketupat, lontong, dan opor ayam, hampers pun jadi semacam tradisi untuk mempererat persaudaraan. Tapi yang paling penting adalah saling memafkan dan jadi manusia baru dengan segala kebaikan.