Karakter Antagonis yang Ikonik

Para penulis atau kreator sering melupakan tokoh antagonis. Padahal tokoh antagonis sangat berperan penting. Cerita jadi lebih hidup. Kehadiran tokoh antagonis jangan selalu dianggap jahat. Tapi ia tokoh yang tidak disenangi pembaca karena memiliki sifat yang bertentangan dengan tokoh utama yang baik (protagonis). Tokoh antagonis bisa juga sebagai tokoh utama dalam novel. Tokoh yang selalu tidak sependapat dengan tokoh utama. Joker adalah tokoh antagonis yang ikonik.

Pertanyaannya kenapa harus ada tokoh antagonis? Ini dia jawabannya:

1. Kehadiran tokoh antagonis untuk menguatkan karakter protagonis. 2. Tanpa kehadiran antagonis, pembaca akan bosan. 3. Pembaca akan menunggu dengan harap-harap cemas, apakah tokoh antagonis berhasil menggagalkan tujuan hidup tokoh antagonis. 4. Tokoh antagonis harus lebih kuat sehingga mendapatkan perlawanan. 5. Sebagai penulis, kita harus menghidupkan tokoh antagonis, agar tokoh protagonis juga ikut hidup. Mereka berdua saling menghidupkan. 6. Kita harus tahu juga tujuan akhir dari tokoh antagonis. Apakah dia meninggal dalam keantagonisannya atau berubah jadi protagonis (GG)

Panggil Aku: Gong

Siapa pernah menduga, jika nama pena “Gol A Gong” akan jadi merek aku! Ini semua terjadi di meja makan sepulang aku dari Jakarta. Itu sekitar Oktober 1988. Aku dihadapkan pada pilihan: menggunakan nama asli Heri Hendrayana Harris atau nama pena. Majalah HAI saat itu menyarankan agar saya mencari nama pena untuk Balada Si Roy. Emak dan Bapak sebetulnya kecewa karena nama asli anaknya tidak akan ada di media massa.

“Berarti karyamu masuk, goal di majalah HAI!” itu reaksi Bapak.

“Kalau menulis harus seperti bunyi ‘gong’, menggema dan membekas di hati pembaca,” Emak menasihati. “Dan kalau sukses jangan sombong karena semua berasal dari Allah.”

Dari percakapan di meja makan itu aku mendapat inspirasi nama pena: Gol A Gong. Gol itu “masuk”. A itu “Allah”. Dan Gong itu “menggema” atau “sukses”. Maknanya “semua kesuksesan itu berasal dari Allah.” (GG)

Roy dan Ani si Dewi Venus Akan Abadi Seperti Romeo dan Juliet

Romeo dan Juliet adalah pasangan abadi ciptaan William Shakespeare. Kisah cinta tragis mereka menggema hingga sekarang. Di Indonesia pada tahun 1980-an mengenal pasangan Galih dan Ratna. Kini kita mengenal Dilan dan Milea. Apakah kisah cinta Roy dan Ani si Dewi Venus dari novel Balada Si Roy karya Gol A Gong akan abadi dan melekat di hati kita? Yuk, kita tunggu Fajar Nugros dkk dari IDN Pictures memproduksi film Balada Si Roy selama Januari dan Februari 2021. Nanti kita duduk di kursi bioskop Agustus 2021 menikmati filmnya. (Mister Gokref)

Gempa Literasi Bersama Gol A Gong

Gempa biasanya tektonik atau vulkanik. Kedua jenis gempa itu menghancurkan segalanya. Tapi “Gempa Literasi” adalah gempa yang menghancurkan kebodohan dan membangun peradaban baru lewa literasi. Saya sudah menyulut “Gempa Literasi” di seluruh pelosok kota Indonesia bahkan Asia.

Silakan menghubungi 0819 06311 007 jika ingin mengundang saya. Menu utamanya pelatihan menulis, bisa esai, cerpen atau novel best seller. Menu tambahannya pembacaan puisi. Seminar literasi juga boleh. Saya bisa berbagi tentang bagaimana caranya mengelola komunitas literasi seperti Rumah Dunia. (Gol A Gong)

Podium Syndrome

Setelah gagal jadi pilot karena tangan kiri harus diamputasi pada 1974, cita-cita saya pun berganti jadi dosen. Saya ingin berbicara di depan para mahasiswa. Tapi pada era Soeharto, gerak-gerik orang cacat terbatas. Gagal jadi dosen, akhirnya profesi menulis yang tidak diskriminatif saya pilih. Setiap saya diundang jadi pembicara di seminar atau mentor pelatihan, saya selalu tergoda jika ada podium. Saya harus berbicara di podium, berlagak jadi seorang dosen yang sedang memberi kuliah. Tentu dengan bahasa senyuman. Dan itu asik, hahahaha… (GG)