Dari Mengecat Pagar Jadi Cerita Pembuka Novel

Setiap hari banyak peristiwa terjadi di sekitar kita. Itu semua bisa kita olah jadi cerita unuk novel yang akan kita tulis. Seperti pada Minggu 5 Juli 2020. Abdul Salam – Presiden Rumah Dunia 2019-2024 dan relawan memagar areal Rumah Dunia seluas 3000 m2. Lalu para relawan komunitas literasi mengecat pagar itu. Nah, jika kita sekadar melihat, maka menguap. Amati dan cermati. Ini menarik untuk dijadikan setting cerita dan lokasi. Peristiwa kecil yang berdampak besar bagi lingkungan ini sangat potensial dan bisa menjadikan novel kita “alamiah”.

Kelas Menulis Novel best Seller Sudah 3 Angkatan Untuk Juli dan Dibuka Untuk Agustus 2020

Istri saya ini hebat. Makin cinta saya. Bayangkan, setelah Juni 2020 yang menembus 10 angkatan Kelas Cerimis alias Cerpen Dinamis, Kelas Menulis Novel Best Seller bersama Gol A Gong secara online untuk Juli 2020 sudah 3 angkatan . Nah, istriku langsung membuka kelas novel best seller angkatan keempat untuk Agustus 2020. Minggu 5 Juli 2020 kemarin pertemuan pertama angkatan pertama, tiap hari Minggu, 4X pertemuan. Selasa 7 Juli 2020 pukul 19.30-21.30 pertemuan pertama kelas novel best seller angkatan kedua.

Hey, Penculik Anak! Kamukah Itu?

Saya membacai cerpen dengan tema “Penculikan Anak”. Kemudian ada semacam persyaratan lain, yaitu dalam bentuk premis yang tidak biasa (premis biasanya satu kalimat) atau bisa juga kita sebut sinopsis: Kau adalah siswa kelas tiga SD. Sepulang sekolah, saat berjalan kaki bersama temanmu, kau melihat dua orang berpakaian serba hitam, menculik seorang anak kecil. Ayo selamatkan dia! Tentu temanya menantang. Tapi “premis” itu bagi penulis yang sedang belajar adalah bukan sekadar tantangan tapi bisa membuat mereka “terbelenggu” atau malah “menjadi kreatif”?

Tersesat di Hutan, Tersesat di Dunia Nyata

Ketika membacai cerpen-cerpen dengan tema “tersesat di hutan” saya membayangkan akan ada banyak kisah “survivor”. Hanya satu cerpen yang mewakili keinginan saya. Sebetulnya tema “tersesat di hutan” sangat menarik. Tetapi para penulis cerpen “menyerah” dengan tema yang sangat menantang itu. Mereka lebih menyukai menggunakan POV 1 (aku) ketimbang menjadi orang lain di dalam tokoh cerpen.

 Saya membayangkan dengan tema “tersesat di hutan” akan muncul sub plot survivor (penyintas), mitos, dan ending mengejutkan (twist). Harapan itu saya temukan di 3 cerpen dengan judul: Suara-suara yang Datang Ketika Sendiri, 720 Hours, The Mystery of Amazon. Ketiga cerpen ini masih “dikelola” dengan baik dan masih mementingkan “logika cerita”.

Cerpen: Gadis Pemulung Masuk Televisi

Karya Gol A Gong

Aini duduk di pos ronda. Karung teronggok di tiang. Dia menyeka keningya. Punggung tangannya basah. Ini hari panas sekali. Mungkin pertanda akan hujan. Dia baru sekitar 1 jam mengelilingi perumahan; mencari-cari rongsokan. Karungnya baru terisi seperempat. Di bak sampah tikungan jalan komplek, dia hanya memperoleh beberapa botol minuman plastik. Di bak sampah rumah nomor 9, hanya ada 2 botol plastik minuman ukuran besar.  

Para Tutor di Rumah Dunia Sejak 1998 – 2020

Rumah Dunia dimulai di garasi rumah, pindah ke teras rumah pada 1998. Saat itu Tias Tatanka yang membacakan dongeng kepada 2 anak kami yang masih balita – Nabila Nurkhalishah (1 tahun) dan Gabriel masih di kandungan. Saya saat itu bolak-balik Serang – RCTI di Kebon Jeruk.

Tahun 2000 kami berhasil membebaskan tanah seluas 1000 m2 di halaman belakang rumah. Kami membangun pendopo di tengah kebun. Tias terus saja mendongeng kepada anak-anak kecil di kampung Ciloang sambil menyusui putra kedua, Gabriel Firmansyah. Saat itu suasananya lebih pada mendongeng dan bermain. Kami ingin Nabila dan Gabriel tumbuh di lingkungan literasi yang sehat.

Hidup Memang Harus Diperjuangkan dan Penuh Resiko

Setiap sore aku duduk di halaman rumah, di bawah pohon seri. Istriku menyediakan kopi dan pisang goreng. Datanglah Rudi – sahabatku sejak SD.

Rudi terisak-isak.”Bisnisku hancur. Aku ditipu orang! Habis aku! Entahlah, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghidupi keluargaku.”

Aku panggil istriku. Aku minta istriku membawakan beberapa liter beras di gudang hasil panenku di akhir tahun plus beberapa butir telur dari kandang, .Rudi langsung permisi pulang membawa kegembiraan makan malam untuk anak dan istrinya.