Sekitar 1996-2008, jika sepulang kerja dari RCTI, tidak ada sebuah tempat pun yang bisa saya dan istri datangi sebagai tempat wisata kebudayaan, kecuali urusan perut saja. Lalu jari-jari saya bergerak, merangkai sebuah puisi:

MENCARI PELANGI
-untuk anak-anak masa depanku-
Kini giliranmu menikmati dunia
Barangkali akan lebih keras menderita
Atau lebih gembira
Tapi tak ‘kan kujanjikan kamu
Bisa bermain-main air hujan
Karena mencari pelangi
Adalah siksaan tak terperi
Kini giliranmu menikmati hidup
Walau yang kuwariskan
Adalah jejak-jejakku
Silakan kamu mencari sendiri
Kini giliranmu menikmati semuanya
Pesanku: berilah ibumu kado pelangi
Karena kami rindu hujan!
*) Kampung Ciloang, Serang
Desember 1997


*


