Saat istri saya – Tias Tatanka hamil anak kami yang pertama (Nabila Nurkhalishah Harris) sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya. Situasi dan kondisi Banten sebelum menjadi provinsi pada masa itu sangat memprihatinkan. Dominasi sebuah kelompok dengan label jawara , membuat saya berpikir keras, apakah tetap berdomisili di Banten atau mengungsi ke Bogor, Bekasi, atau Depok?

Saya sedih dengan Banten, yang ternyata jaraknya dekat dengan Jakarta tidak serta-merta membikin wilayah itu maju. Di Banten, jalan-jalan kualitasnya parah. Sekolah banyak yang ambruk. Koran lokal sebelum tahun 2000 tidak ada. Toko buku apalagi. Setelah jadi provinsi pernah ada Toko Buku Tiga Serangkai di Matahari, Serang Mal, yang melenyapkan gedung tua Makodim di akun-alun utara Kota Serang. Sekarang toko buku itu bangkrut dan tutup.


