Puisi di atas itu saya tulis pada 1997. Banyak orang yang membaca puisi ini, mengira tentang cinta seorang lelaki terhadap perempuan. Tafsir ini boleh saja.

Sebetulnya puisi ini saya tulis, ketika hati saya kacau, prihatin dengan sikon Banten. “Pelangi” yang saya maksud di sini adalah sebuah cita-cita, utopia tetang masa depan Banten yang indah seperti saat kemunculan pelangi sehabis hujan di langit!

Saat itu, saya membayangkan, anak-anak saya jika tumbuh di Banten pasti akan menderita. Anak-anak biologis saya, juga anak-anak yang lain, tidak akan pernah bisa menikmati “pelangi”.

Lalu, timbulah kepasrahan dalam diri saya. Allah sudah mengatur semuanya. Saya hanya perlu menjaga amanah yang dititipkan Allah lewat anak-anak. Maka, saya dan istri mendirikan komunitas Rumah Dunia, adalah juga karena kecintaan kami kepada anak-anak.
Nah, setelah 26 tahun puisi itu bergulir, apakah “pelangi” yang saya misalkan dengan Banten masa datang, tampak akan terwujud? Melihat politik dan dinasti di Banten yang didominasi oleh sebuah keluarga saja, masih “jauh buku dari rak”. Tentang komposisi anggota DPR asal Banten, DPRD Banten, bahkan di tingkat kota Serang, kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Ciilegon , tanggapan orang-orang seperti ini, “Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Berdoa saja. Semoga mereka diberi hidayah!”


